Manusia
hidup dengan jalan hidupnya masing-masing. Ada yang kuliah, ada yang kerja,
bahkan ada pula yang pengangguran. Ada yang kaya, ada yang sederhana, bahkan
tidak sedikit pula mereka yang miskin. Jalan hidup memang merupakan kapasitas
dan kadar kemampuan dari seorang hamba yang telah Allah berikan untuknya. Orang
kaya di uji dengan kekayaannya, dan orang miskin di uji dengan kemiskinannya.
Dengan segala perbedaan ujian itu, dapat dipastikan bahwa kapasitas dan kadar
kemampuan seorang hamba pun juga berbeda-beda.
Banyak yang
mengira bahwa menjadi kaya itu pasti menyenangkan. Tapi tak sedikit pula orang
yang hartanya berlimpah justru kecemasannya berlebih dari orang yang kurang
mampu. Cemas akan hartanya yang takut kehilangan, cemas akan kenikmatan duniawi
yang dapat membuatnya lalai akan adanya Allah, dan cemas apabila dia mati
nanti, dia akan meninggalkan hartanya yang tidak sedikit jumlahnya.
Kecemasan-kecemasan seperti itulah yang akhirnya membuat banyak orang kaya
menjadi stress.
Banyak, atau
mungkin hampir semua orang yang kurang mampu, berharap bisa menjadi orang kaya.
Bisa kerja, kuliah, mempunyai hand phone terbaru, memiliki banyak uang, selalu
punya sepatu dan baju baru, dan segala kenikmatan-kenikmatan duniawi yang
sebenarnya semua itu hanyalah teman sesaat kita di kala hidup di dunia ini.
Setelah itu, tak dapat lagi mereka menemani kita di kehidupan selanjutnya.
Hanyalah sebuah kain kafan berwarna putih, pakaian agung dari yang teragung,
yang akan kita gunakan untuk menghadap Allah swt.
Jangan
mengira memiliki semua kemewahan itu bisa membuat kita bahagia. Biasanya
kemewahan itu hanyalah modal utama dari rasa keserakahan kita untuk memonopoli
diri kita sendiri. SADARLAH! Mungkin semua itu bukan yang terbaik untuk kita.
Bisa saja kemewahan itu akan membuat kita lupa akan adanya Allah, akan adanya
alam akhirat, akan adanya surga dan neraka, sehingga kita lalai akan
kewajiban-kewajiban kita sebagai umat Nabi Muhammad saw.
Jangan
pernah mengutuk diri sendiri jika kita terlahir sebagai seorang yang tidak
berada. Sebab bisa jadi, yang sedikit itu mungkin bisa membawa kita pada
keberkahan, membawa kita pada kebaikan, dan membawa kita pada ketenangan. Bisa
jadi yang sedikit itu adalah amal untuk kita sebagai hamba yang selalu berucap
syukur pada Allah swt di setiap keadaan. Insya Allah.
Dari Abu
Abdurrahman Abdullah bin Mas'ud ra. berkata, Rasulullah bersabda kepada kami,
sedang beliau adalah orang jujur dan terpercaya, "Sesungguhnya setiap
kalian dikumpulkan penciptaannya dalam rahim ibunya selama empat puluh hari
berupa nutfah (sperma) kemudian menjadi ‘alaqah (segumpal darah) selama waktu
itu juga kemudian menjadi mudghah (segumpal daging) selama waktu itu pula,
kemudian Allah mengutus malaikat untuk meniupkan roh kepadanya dan mencatat
empat perkara yang telah ditentukan yaitu rizki, ajal, amal perbuatan, dan
sengsara atau bahagianya.
Maka demi
Allah yang tiada Tuhan selainNya, sesungguhnya ada seseorang diantara kalian
beramal dengan amalan penghuni surga, sehingga tidak ada jarak antara dirinya
dengan surga kecuali sehasta saja, namun ketetapan (Allah) mendahuluinya,
sehingga ia beramal dengan amalan ahli neraka, maka ia pun masuk neraka.
Ada
seseorang diantara kalian beramal dengan amalan penghuni neraka, sehingga tidak
ada jarak antara dirinya dengan neraka kecuali sehasta saja, namun ketetapan
(Allah) mendahuluinya, sehingga ia beramal dengan amalan penghuni surga, maka
ia pun masuk surga"(HR. Bukhari dan Muslim)
Yakinlah
pada diri sendiri. Rizki, jodoh, dan kematian sudah ditentukan oleh Allah. Kita
sebagai hambaNya hanya tinggal menjalani tanpa terlepas dari ikhtiar, do'a, dan
tawakkal padaNya, sesuai dengan jalan hidup kita masing-masing.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar